Kamis, 04 Maret 2010

Anak Lelaki Kecil itu, Entah Siapa Namanya

Aku menghantarkan dia pulang ke rumahnya. Aku bertanya kepada tetangga di sekitar rumahku di mana rumah anak lelaki kecil ini. Mungkin umurnya baru sekitar lima tahun. Hari ini kudapati dia menyembunyikan gembok rumahku. Tadinya tidak kusangka kalau ia akan menyembunyikannya. Aku mendapati ia berlari keluar rumah ku setelah sesaat ia melongok di halamanku, tempat ayahku memarkirkan sepeda motor tuanya. Dia masuk ke halaman rumahku setelah menuruni jalan masuk yang menurun, beberapa pot tanaman dan pohon bamboo yang bergoyang saat dia melalui jalan masuk yang sempit. Tak lama setelah melihat keadaan rumahku tampak tidak ada orang, kudengar dia berlari keluar. Terdengarlah derak pintu gerbang rumahku yang selalu bersuara keras saat ada orang yang menggesernya. Dalam hati ku aku tahu dia akan menyentuh gembok rumahku, karena sudah sejak beberapa hari yang lalu aku mendapati ia melepas gembok itu dari tempatnya dan memainkannya. Namun hari itu, tidak sempat ia mengambilnya, karena aku keburu keluar dan meminta gembok itu dari tangannya. Tampaknya ia tidak tahu bahwa aku mengamatinya dari balik gorden. Samar bayanganku karena gorden putih yang bergantung di ruang tamu.

Beberapa pedagang di depan rumahku berkata bahwa anak lelaki kecil ini adalah anak dari pegawai laundry di tepi jalan. Beberapa hari sebelumnya saat pertama kali bertemu dengannya, aku merasa bahwa anak ini tidak memiliki sorot mata anak nakal. Dia polos. Saat kudapati dia berlari- lari kecil di halaman rumahku, kuikuti dia hingga ke gerbang, tepat saat dia sedang memegang- megang gembok rumahku, kuminta kembali gembok itu.

Baru aku memikirkan kata- kata apa yang akan kukatakan pada bocah lelaki kecil, hitam, berambut lurus dan bermata besar yang bergelayutan di pintu rumahku, bocak kecil ini malah menanyaiku duluan.

“Omahmu ning endi?”, katanya padaku.

Rumahmu di mana?

“Omahku ning kene…”, sahutku padanya. Agak terkejut aku melihat keberaniannya bertanya.

Rumahku di sini.

“Bapakmu ana ning omah ora?”

Ayahmu ada di rumah tidak

Pertanyaan ini membuatku tertawa terbahak dalam hatiku. Anak kecil ini tampaknya takut pada ayahku. Entah kisah apa yang disimpan mereka berdua. Kutanyai kenapa dia ke rumahku. Katanya dia ingin melihat guguk. Di rumahku memang ada enam ekor anjing. Lima ekor anjing dewasa, satu yang masih bayi. Suara anjing- anjing ku memang sering menarik perhatian anak kecil. Terkadang anak- anak kecil itu ikut menggonggong dari balik tembok rumahku.

Kugandeng tangannya masuk. Kurasakan ada ketakutan di balik tangannya yang kadang menegang tiba- tiba. Kubimbing dia untuk melihat anjing- anjing ku. Aku ingin menunjukkan padanya anak anjingku yang baru berusia 1 bulan. Saat hampir tiba di pintu masuk, ibuku menghadang. Katanya, “Ngapain kamu bawa masuk anak kurang ajar itu?”

Padahal tidak kurasakan sedikitpun bahwa anak ini adalah anak yang kurang ajar. Kurasakan bahwa anak ini penuh rasa ingin tahu dan kegembiraan. Di mana perasaan ini tidak ada lagi pada orang dewasa. Dia melepaskan gandenganku dan berlari keluar.

Kata ibuku, anak itu adalah salah satu dari anak kurang ajar yang sering mengganggu rumah kami. Tapi dalam hati ku, seberapa besar sih kerusakan yang disebabkan anak usia lima tahun ini. Tampaknya ia sangat lugu. Ia tertawa- tawa kecil sambil tergeli- geli saat kusuruh ia mencari gembok rumahku yang ia sembunyikan. Daun- daun bamboo membuatnya merinding. Kudengar suaranya terkikik- kikik. Dia masuk di sela- sela daun bamboo untuk mencari gembok itu. Hampir lima menit tapi tidak juga ketemu. Aku mulai kehilangan kepercayaan ku pada wajah polosnya. Aku mulai menggunakan fikiran dewasaku. Aku tidak lagi percaya kepadanya dan mulai mempercayai kata- kata ibuku bahwa ia adalah salah satu anak kurang ajar yang sering mengganggu.

Kuputuskan untuk menghantarkannya pulang. Mungkin di depan ibunya dia akan berkata jujur, begitu pikirku.

“Maaf, Bu…ini anak siapa, ya?” aku mencoba untuk berbicara sedatar mungkin. Aku menceritakan pada ibunya bahwa bocah kecil ini menyembunyikan gembok rumahku. Tidak kusangka, ibu bocah itu mencubitinya, mengambil gantungan pakaian milik laundry tempatnya bekerja dan memukul bocah itu. Alih- alih memberitahukan tempat di mana ia menyembunyikan gembok rumahku, dia berlari ke loteng atas sambil menangis dan berkata,

          “Bu, aku wedi, bu…aku wedi bu…”

          Ibu…saya takut bu…saya takut….

Sekejap aku kembali pada masa lalu. Aku mengerti betul perasaan bocah kecil itu. Perasaan bersalah muncul di hatiku. Si ibu juga hanya diam saja, kembali pada pekerjaannya. Menganggap aku yang berdiri di depan laundry itu seolah tidak ada di sana. Aku akhirnya memutuskan berjalan pulang kembali ke rumah. Masih terngiang perkataan bocah tadi. Kucari gembok tadi di rumpun bamboo. Tidak lama kutemukan gembok rumahku di semak bamboo itu.

Aku berkata pada diriku sendiri. Mulai hari ini, aku akan lebih mendengarkan kata hatiku. Membiarkan sisi kanak- kanak ku tetap hidup. Kanak- kanak yang percaya pada teman kecilnya. Kanak- kanak yang tidak ada rasa curiga.

Aku tidak mau ada anak lain yang dipukul. Entah karena budaya, ataukah semua itu hanyalah karena keterbatasan wawasan dan tekanan ekonomi sehingga banyak anak Indonesia jadi tempat pelampiasan orang tuanya. Aku tidak mau.

Kusimpan permintaan maafku, untuk bocah lelaki yang tidak kuketahui siapa namanya, tapi darinya, aku mendapat pelajaran bermakna. Maaf karena aku bertumbuh dewasa dan melupakan sisi kecil diriku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar