ini adalah salah satu kejadian dalam hidupku yang ga mungkin terulang dua kali. Aku bertemu pria hebat, peraih nobel perdamaian, Lech Walesa. Beliau berkunjung ke Atma Jaya Yogyakarta dalam rangka pembukaan Dies Natalis ke- 45 Atma Jaya Yogyakarta. Banyak pemikiran beliau yang disampaikan. Seperti halnya kapitalis hanya sedikit lebih baik dari komunisme. Harus ada jalan tengah sehingga 90 % kekayaan dunia tidak hanya dimiliki oleh 10 % warganya.
Saat membaca profile beliau, aku cukup terkejut melihat fakta bahwa beliau dulunya seorang buruh. Ini membuktikan pada dunia, khususnya menyadarkan aku bahwa seorang pemimpin bisa datang dari mana saja, tanpa memandang status pendidikan atau status sosialnya di masyarakat.
yang membuat aku sangat gembira adalah aku mendapat kesempatan untuk berbicara dengan beliau meski hanya dalam sebuah perbincangan yang sangat singkat. Aku yang saat ini bekerja sebagai Student Staff di kantor Humas, Sekretariat dan PRotokoler Atma Jaya Yogyakarta ditugaskan untuk meminta tanda tangan kepada Lech Walesa, di saat itulah Mr. Lech Walesa menanyaiku.
Student staff : “Iya, Pak. Anda sangat mengagumkan.”
Walesa : “Apakah kamu mengerti lelucon yang saya lontarkan?”
Student staff : “Mengerti, Pak. Apakah ada nasihat untuk kami, kaum muda ini?”
Walesa : “Sulit untuk memberikan nasihat, karena apa yang saya lihat berbeda dengan apa yang kamu lihat. Lakukan segala sesuatu demi kebaikan mu dan apa yang menurut kamu benar. Jika kamu ingin tahu apa yang aku tahu, mari bertukar usia dan kamu akan tahu semua yang saya tahu. “
Student staff: ”terimakasih banyak, Pak Presiden.”
itulah perbincangan singkatku dengan salah satu sosok hebat yang aku temui. One of memory that will last forever. Terimakasih Atma Jaya, memberikan kesempatan ini pada saya.


spt apa leluconnya itu? mending gak beri nasihat, sih. orang tua biasanya akan bicara ttg berbagai macam penyakit, dan anak muda akan bicara tentang masa depan jk sudah ngobrol.
BalasHapus